Sahabat Rasulullah saw Juga Memelihara Burung, Ini Kisahnya

DI ZAMAN dahulu, 1400 tahun lalu, di mana ada seorang sahabat Rasulullah saw juga memelihara burung.

Dan Rasulullah saw tidak melarangnya, justru Rasulullah saw sering menanyakan kabar burung tersebut.

Hal ini sebagaimana dikisahkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Beliau memiliki adik laki-laki yang masih kanak-kanak, bernama Abu Umair. Si Adik memiliki burung kecil paruhnya merah, bernama Nughair.

Anas menceritakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا، وَكَانَ لِي أَخٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو عُمَيْرٍ – قَالَ: أَحْسِبُهُ – فَطِيمًا، وَكَانَ إِذَا جَاءَ قَالَ: «يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ» نُغَرٌ كَانَ يَلْعَبُ بِهِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Saya memiliki seorang adik lelaki, namanya Abu Umair. Usianya mendekati usia baru disapih. Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, beliau memanggil, ‘Wahai Abu Umair, ada apa dengan Nughair?’ Nughair adalah burung yang digunakan mainan Abu Umair. (HR. Bukhari 6203, Muslim 2150, dan yang lainnya).

Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan beberapa pelajaran yang disimpulkan dari ini. diantara yang beliau sebutkan,

جواز إمساك الطير في القفص ونحوه

“(Hadis ini dalil) bolehnya memelihara burung dalam sangkar atau semacamnya.” (Fathul Bari, 10/584).

As-Syarwani (w. 1301 H) – ulama madzhab Syafiiyah – mengatakan,

وسئل القفال عن حبس الطيور في أقفاص لسماع أصواتها وغير ذلك فأجاب بالجواز إذا تعهدها مالكُها بما تحتاج إليه لأنها كالبهيمة تُربط

”al-Qaffal ditanya tentang hukum memelihara burung dalam sangkar, untuk didengarkan suaranya atau semacamnya. Beliau menjawab, itu dibolehkan selama pemiliknya memperhatikan kebutuhan burung itu, karena hukumnya sama dengan binatang ternak yang diikat.” (Hasyiyah as-Syarwani, 9/210).

Sebagaimana yang telah disebutkan dalam artikel sebelumnya yang lebih lengkap, bahwa memelihara burung dibolehkan, termasuk burung kicau.

Yang kita waspadai adalah jangan sampai kita berlebih-lebihan dalam burung. Misalkan lalai dari shalat karena waktunya dihasbikan untuk mengurusi burung, atau membelanjakan uang yang berlebihan untuk burung, sedangkan melalaikan fakir miskin dan anak terlantar.

Berikutnya adalah memperhatikan makan dan minum burung tersebut, serta menjaga kenyamanannya, agar kita tidak mendapatkan dosa akibat dari hobi yang digeluti.

Karena ada hadits di mana ada seorang perempuan meninggal dunia dan dimasukkan ke dalam neraka karena mengurung kucing sembari tidak memberikannya makan.

Begitu juga ada seorang wanita pezina yang masuk surga, karena kemurahan dari Allah swt. Hal ini dikisahkan dalam hasits dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِى يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنَ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا

Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu mengelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalannya tersebut.” (HR. Muslim No. 2245).

Kedua kisah antara kucing dan anjing memiliki makna yang dalam tentang hewan. Serta hikmah yang luas. Karena Islam memang agama yang sempurna, yang mengajarkan manusia bagaimana harus bersikap kepada hewan.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua, jika ada kesalahan maka itu dari saya, dan kebanaran itu hanya milik Allah swt.

 

BACA: Cara Daftar Sebagai Anggota Beritaburung, Bisa Nulis Artikel, Posting Burung, dan Lainnya

loading...